" />

20 Jun 2010

Konflik

Author: nuruln0879 | Filed under: Academic

Konflik sebagai fenomena sosial adalah sesuatu yang lazim dalam masyarakat. Oleh karena itu konflik tidak hanya terjadi pada masyarakat yang heterogen tetapi juga dalam masyarakat yang homogen, bahkan pada diri seseorangpun potensi konflik itu selalu ada. Sebagaimana dikemukakan oleh pandangan teori naluri nativistik, bahwa dalam diri manusia secara naluri telah memiliki dorongan untuk berkonflik sebagai wujud keinginan untuk menguasai orang lain atau mempertahankan diri dari orang lain. Menurut penyebabnya konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa oleh individu dalam fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawa sertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, maka konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat, namun demikian keberadaan suatu konflik dalam masyarakat tidak bisa dibiarkan, bukan saja karena adanya resiko tetapi juga kekhawatiran timbulnya tindak kekerasan oleh satu pihak kepada pihak lainnya. Oleh karena itu suatu konflik dalam masyarakat tidak perlu disembunyikan atau dihindari, tetapi harus dikelola agar mampu menjadi energi positif bagi perubahan dan perbaikan sosial dan ekonomi yang secara konstruktif mampu menopang kehidupan masyarakat dalam menjangkau tingkat kesejahteraan yang semakin baik.

Konflik berasal dari kata kerja dari bahasa latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Berdasarkan pada pengertian di atas, maka konflik dapat didefinisikan sebagai hubungan antara dua pihak atau lebih (individu atau kelompok) yang memiliki atau merasa memiliki sasaran-sasaran yang tidak sejalan (Fisher, 2000). Dalam aspek kebahasaan, kata konflik mengalami penyimpitan makna dan lebih sering dikonotasikan dengan situasi negatif. Pada kenyataannya tidak seluruh peristiwa konflik dapat dipandang hal buruk dan harus dihindari. Hal yang harus dihindari adalah apabila konflik berwujud dalam bentuk kekerasan yang berakibat fatal bagi aspek-aspek kemanusiaan.

Konflik hanya mempunyai dampak negatif apabila; (a) konflik tersebut dapat menghalangi pencapaian tujuan bersama, (b) mengganggu kualitas dan produktivitas masyarakat, dan (c) mengancam kesatuan (Beebe dan Masterson, 1964).

Berbagai upaya harus dilaksanakan dalam memahami cara-cara mengelola konflik, hal ini membutuhkan berbagai teori sebab-sebab konflik. Teori hubungan masyarakat beranggapan bahwa konflik disebabkan oleh polarisasi yang terus terjadi, ketidakpercayaan dan permusuhan diantara kelompok yang berbeda dalam suatu masyarakat. Sasaran yang ingin dicapai adalah: (a) meningkatkan komunikasi dan saling pengertian antara kelompok-kelompok yang mengalami konflik, dan (b) mengusahakan toleransi agar masyarakat lebih bisa saling menerima keragaman yang ada di dalam (Fisher, dkk. : 2000).

Teori negoisasi prinsip beranggapan bahwa konflik disebabkan oleh posisi-posisi yang tidak selaras dan adanya perbedaan pandangan tentang konflik oleh pihak-pihak yang berkonflik. Sasaran yang ingin dicapai teori ini adalah; (a) membentuk pihak-pihak yang mengalami konflik untuk memisahkan perasaan pribadi dengan berbagai masalah dan isu, serta memampukan mereka untuk melakukan negosiasi berdasarkan kepentingan-kepentingan daripada posisi tertentu yang sudah tetap, dan (b) melancarkan proses pencapaian kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak atau semua pihak (Fisher, dkk. 2000).

Teori kebutuhan manusia berasumsi bahwa konflik yang berakar dalam disebabkan oleh kebutuhan dasar manusia (fisik, mental dan sosial) yang tidak terpenuhi atau dihalangi. Sasaran yang ingin dicapai teori ini adalah; (a) membantu pihak-pihak yang mengalami konflik untuk mengidentifikasi dan mengupayakan bersama kebutuhan mereka yang tidak terpenuhi, dan (b) agar pihak-pihak yang mengalami konflik mencapai kesepakatan untuk memenuhi kebutuhan dasar semua pihak (Fisher, dkk. 2000)

Teori identitas berasumsi bahwa konflik disebabkan karena identitas yang terancam, yang sering berakar pada hilangnya sesuatu atau penderitaan dimasa lalu yang tek terselesaikan. Sasaran yang ingin dicapai teori ini adalah; (a) melalui fasilitas lokakarya dan dialog antara pihak-pihak yang mengalami konflik dapat mengidentifikasi ancaman untuk membangun empati dan rekonsiliasi diantara mereka, dan (b) meraih kesepakatan bersama yang mengakui kebutuhan identitas pokok semua pihak (Fisher, dkk. 2000).

Menurut Coser (1957) konflik yang berdampak positif dapat mempengaruhi masyarakat melalui perubahan-perubahan sosial yang diakibatkannya, konflik sosial juga  berfungsi dalam sistem sosial khususnya dalam hubunganya pada kelembagaan yang kaku, perkembangan teknis, produktifitas, dan kemudian memperhatikan hubungan antara konflik dan perubahan sosial. Konflik sebagai mekanisme perubahan sosial dan penyesuaian, dapat member kontribusi positif dalam masyarakat. Dalam bukunya The Function Of Social Conflik, Coser memberi perhatian pada fungsi konflik terhadap fungsi kelompok. Dalam hal ini Coser mengaitkat antara konflik internal dan eksternal kelompok terhadap keeratan hubungan di antara anggota kelompok. Istilah kohesi kelompok sebagai masa disebutkan Coser dapat dilihat pada solidaritas kelompok, atau dalam istilah sehari-hari disebut kekompakan atau kesetiakawanan kelompok. Maksud dari konflik eksternal adalah konflik yang mampu menciptakan dan memperkuat identitas kelompok dan dalam konflik eksternal dengan kelompok lain dapat mengalihkan “ketegangan” dan permusuhan dalam kelompok kepada musuh di luar kelompok. Sehingga, masing-masing anggota kelompok berusaha untuk mempererat kembali hubungannya dengan anggota kelompok yang lain. Sedangkan konflik internal memberi fungsi positif terhadap kelompok identitas mengenai kesalahan perilaku. Ada perilaku anggota yang dianggap menyimpang dari teks norma kelompok sehingga perlu dikoreksi oleh kelompok tersebut dan dapat “mencairkan” ketegangan ketegangan dalam hubungan diantara anggota kelompok, sehingga tidak ada efek dipendamnya suatu kebencian dalam kelompok.

Penyelesaian konflik, menurut Rauf ( 2001 ), konflik adalah perbedaan atau pertentangan pendapat paling tidak dua orang atau kelompok. Definisi penyelesaian konflik menurut FAO, disebut Coser dalam Jhonson (1981 ) sebagai katup pengaman. Katup pengaman merupakan suatu saluran alternatif untuk mengungkapkan perasaan bermusuhan dari sumber yang sebenarnya yang merupakan konsekuensi karena dipendamnya konflik. Alternatif seperti itu adalah sejenis katup pengaman dengan mana dorongan-dorongan agresif atau permusuhan bias diungkapkan dengan cara-cara yang tidak mengancam atau merusakkan solidaritas.

Menurut Fisher et al (2000), dalam etik susilowati ningsih, penyelesaian konflik mengacu pada strategi-strategi untuk menangani konflik terbuka dengan harapan tidak hanya mencapai suatu kesepakatan untuk mengakhiri konflik, tetapi juga mencapai suatu penyelesaian dari berbagai perbedaan sasaran yang menjadi penyebabnya. Penyelesaian konflik bertujuan untuk mengakhiri perilaku kekerasan melalui suatu persetujuan perdamaian.

Menurut Rauf (2001) dalam etik susilo, ada dua cara penyelesaian konflik, yaitu penyelesaian konflik secara persuasif dan penyelesaian konflik secara koersif atau kekerasan. Cara penyelesaian konflik secara persuasif menghasilkan penyelesaian konflik secara tuntas, artinya tidak lagi ada perbedaan antara pihak-pihak yang tadinya berkonflik, karena titik temu telah dihasilkan atas keinginan sendiri. Cara koersif menghasilkan penyelesaian konflik dengan kualitas rendah karena konflik sebenarnya belum selesai secara tuntas. Titik temu atau mufakat terbentuk secara terpaksa.

Banyak cara untuk dapat menyelesaikan konflik yang terjadi dalam kehidupan warga, baik melalui peradilan maupun tanpa melalui peradilan dengan melakukan musyawarah, tawar-menawar, dan kesepakatan-kesepakatan informal lainnya. Mengingat tujuan awal konflik adalah menemukan suatu pilihan yang menjamin akses pada keadilan, maka diperlukan adanya suatu proses komunikasi dan empati.

20 Jun 2010

Komunikasi

Author: nuruln0879 | Filed under: Academic

Komunikasi dalam bahasa Inggris communication atau dalam bahasa Latin communication, berasal dari kata communis yang berarti sama. Maksud sama disini adalah sama makna. (Effendy, 2007)

Robbins (2007) mengemukakan bahwa komunikasi merupakan terjemahan kata communication yang berarti perhubungan atau perkabaran. Communicate berarti memberitahukan atau berhubungan. Secara etimologis, komunikasi berasal dari bahasa latin communicatio dengan kata dasar communis yang berarti sama.

Secara terminologis, komunikasi diartikan sebagai pemberitahuan sesuatu (pesan) dari satu pihak ke  pihak lain dengan menggunakan suatu media. Sebagai makhluk sosial, manusia sering berkomunikasi satu sama lain. Namun, komunikasi bukan hanya dilakukan oleh manusia saja, tetapi juga dilakukan oleh makhluk-makhluk yang lainnya. Semut dan lebah dikenal mampu berkomunikasi dengan baik. Bahkan tumbuh-tumbuhanpun sepertinya mampu berkomunikasi.

“Untuk dapat berkomunikasi dengan baik kita perlu memahami unsur-unsur komunikasi, antara lain:

  1. Komunikator, pengirim (sender) yang mengirim pesan kepada komunikan dengan menggunakan media tertentu. Unsur yang sangat berpengaruh dalam komunikasi, karena merupakan awal (sumber) terjadinya suatu komunikasi
  2. Komunikan, penerima (receiver) yang menerima pesan dari komunikator, kemudian memahami, menerjemahkan dan akhirnya memberi respon.
  3. Media, saluran (channel) yang digunakan untuk menyampaikan pesan sebagai sarana berkomunikasi. Berupa bahasa verbal maupun non verbal, wujudnya berupa ucapan, tulisan, gambar, bahasa tubuh, bahasa mesin, sandi dan lain sebagainya.
  4. Pesan, isi komunikasi berupa pesan (message) yang disampaikan oleh komunikator kepada komunikan. Kejelasan pengiriman dan penerimaan pesan sangat berpengaruh terhadap kesinambungan komunikasi.
  5. Tanggapan, merupakan dampak (effect) komunikasi sebagai respon atas penerimaan pesan. Diimplentasikan dalam bentuk umpan balik (feed back) atau tindakan sesuai dengan pesan yang diterima”[1].

“Ada beberapa sikap yang perlu dicermati oleh seseorang dalam berkomunikasi khususnya komunikasi verbal, antara lain: berorientasi pada kebenaran (truth), tulus (sincerity), ramah (friendship), kesungguhan (Seriousness), ketenangan (poise), percaya diri (self convidence)”[2].

Joseph de Vito dalam Effendy (2007), menyebut ada 5 kualitas umum yang dipertimbangkan untuk efektifitas sebuah komunikasi. Kualitas ini antara lain:  Openess, adanya keterbukaan; Supportiveness, saling mendukung;  Positiveness, sikap positif; Emphaty, memahami perasaan orang lain; dan Equality, adanya kesetaraan. Namun demikian, yang paling mendasar dalam sebuah kegiatan komunikasi adalah adanya rasa saling percaya. Jika sudah ada rasa saling percaya diantara komunikator dan komunikan, biasanya apapun yang dikatakan pasti akan diterima.


[1] Lihat, Anonim, Pedoman Manajemen Masjid dan Organisasi Islam, hal 13, tidak diterbitkan.

[2] Ibid

20 Jun 2010

Pengangguran

Author: nuruln0879 | Filed under: Academic



PENGANGGURAN

Pengangguran adalah seseorang yang telah mencapai usia tertentu yang tidak memiliki pekerjaan dan sedang mencari pekerjaan agar memperoleh upah dan keuntungan. Sehingga pengangguran akan terus bertambah selama tidak ada pekerjaan yang dapat mendatangkan keuntunga menurut standar si penganggur. (Manning dkk, 1985).

Pengangguran dapat dibedakan menjadi pengangguran terbuka dan terselubung. Pengangguran terbuka adalah suatu keadaan dimana seorang yang tergolong dalam kategori angkatan kerja (labor force) tidak memiliki pekerjaan dan secara aktif sedang mencari pekerjaan. Pengangguran terselubung (setengah pengangguran) adalah suatu keadaan dimana seseorang yang tergolong dalam kategori angkatan kerja (labor force), bekerja dengan jumlah jam kerja di bawah jam kerja normal (batas jam kerja normal adalah 35 jam per minggu) atau seseorang yang bekerja memeuhi jam kerja normal, namun memiliki penghasilan di bawah standar atau ada ketidaksesuaian antara latar belakang pendidikan dengan jenis pekerjaan yang ditekuni (Nanga, 2001).

Masalah pengangguran merupakan cerminan dari kelebihan penawaran tenaga kerja dibandingkan kemampan ekonomi untuk menyerapnya. Pengangguran dapat dipandang sebagai suatu bentuk pemborosan sumberdaya ekonomi, karena selain memperkecil output sekaligus juga memacu pengeluaran pemerintah berupa kompensasi pengangguran dan kesejahteraan.

Pada penjelasan jenis-jenis pengangguran, secara tidak langsung aan diketahui juga faktor-faktor yang menyebabkannya. Jenis-jenis pengangguran trebka menurut Nanga (2001) adalah :

  1. Pengangguran alamiah (natural unemployment) atau tingkat pengangguran alamiah (natural rate of unemployment), merupakan akibat dari tingkat kestablilan inflasi. Pengangguran jenis ini terdiri dari pengangguran friksional dan pengangguran struktural.
    1. Pengangguran friksional atau transisi (frictional or transitional unemployment), merupakan akibat dari adanya perubahan di dalam syarat-syarat kerja berdasarkan perkembangan ekonomi yang terjadi. Pengangguran ini bisa terjadi saat pekerja berpindah dari daerah satu ke daerah lainnya.
    2. Pengangguran struktural (structural unemployment), merupakan akibat dari perubahan di dalam struktur pasar tenaga kerja yang menyebabkan terjadinya ketidaksesuaian antara penawaran dan permintaan tenaga kerja. Salah satu penyebabnya adalah factor kemajuan teknologi yang disebut dengan istilah technological unemployment.
  2. Pengangguran konjungtur atau sikis (cyclical unemployment), terjadi akibat adanya kemerosotan dalam kegiatan ekonomi. Kegiatan produksi yang memberikan output rendah mengindikasikan perluya engurangan tenaga kerja demi mempertahankan eksistensi dalam dunia ekonomi.
  3. Pengangguran musiman (seasonal unemployment). Pengangguran jenis ini merupakan pengangguran yang terjadi pada waktu-waktu tertentu di dalam satu tahun, dan terjadi hanya untuk sementara waktu.

Jenis pengagguran terbuka (open unemployment) menurut Dinas Nakertrans dengan BPS Provinsi DKI Jakarta (2007) adalah angkatan kerja yang:

  1. Mencari pekerjaan, ialah orang yang tidak bekerja dan sedang mencari pekerjaan, atau orang yang belum pernah atau sudah pernah bekerja karena sesuatu hal behenti atau diberhentikan dan sedang berusaha mendapatkan pekerjaan.
  2. Mempersiapkan usaha, ialah orang yang tidak bekerja, sedang melakukan persiapan suatu usaha yang baru, yang bertujuan untuk memperoleh keuntungan atas resiko sendiri, baik dengan atau tanpa mempekerjakan pekerja seperti mengumpulkan modal atau perlengkapan, mencari lokasi, mengurus surat ijin usaha, dan sebagainya.
  3. tidak mencari pekerjaan, karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan.
  4. sudah memiliki pekerjaan, tetapi belum mulai bekerja.

Selanjutnya, jenis-jenis pengangguran terselubung menurut Dinas Nakertrans dengan BPS Provinsi DKI Jakarta (2007) adalah sebagai berikut:

  1. Setengah penganggur kentara (visible underemployment), ialah orang yang bekerja dengan jumlah jam kerja di bawah jam kerja normal. Sejak tahun 1999 BPS menyempurnakan definisi setangah penganggur, yakni:
    1. Setengah penganggur kentara terpaksa, ialah orang yang bekerja kurang dari 35 jam perminggu yang masih mencari pekerjaan atau masih bersedia menerima pekerjaan lain.
    2. Setengah pengaggur kentara sukarela, ialah orang yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu, namun tidak mencari pekerjaan dan tidak bersedia menerima pekerjaan lain.
  2. Setengah penganggur tidak kentara (invisible underemployment), ialah orang yang bekerja memenuhi /melebihi jam kerja normal, namun ia sedang bekerja pada posisi yang sebetulnya membutuhkan kualifikasi di bawah yang ia miliki.
  3. Setengah penganggur potensial, ialah orang yang bekerja memenuhi/melebihi jam kerja normal, namun menghasilkan output yang rendah, yang disebabkan olah faktor-faktor organisasi, teknis, dan ketidakcukupan lain pada tempat dimana ia bekerja.
bit torrents lotus karls mortgage calculator mortgage calculator uk Original premium news theme